Rabu, 02 Juli 2014

Pahlawan Berdasi

   Gumam seorang pemimpi melihat realita hidup di negeri sang saka merah putih. Merah daraku membeku disetiap ruang kepemerintahan. Putih tulangku retak termakan tikus-tikus berdasi.
Bambu runcing saksi perjuangan tergantikan dengan pena-pena menggores kertas berlabel cek ataupun tanda terima.
    Negeri ibu pertiwi dahulu menggoyahkan dunia sebagai macan asia, namun kini ibu pertiwi adalah tikus asia yg berdasi. Tahta menjadi medan pertempuran demi kejayaan diri sendiri, kaum-kaum bawahan seakan tidak terlihat dipelupuk mata pendekar-pendekar berdasi, mereka hanyalah fokus pada perjuangan individualisme semata, segalanya demi kemerdekaan pribadi, mereka rela menghancurkan kebijaksanaan, mencabik-cabik belas kasih dan memasukan rasa kepedulian kedalam lubang buaya.
   Sirnalah sudah, sirna semuanya keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia, tragedi kebobrokan intektual, emosional negtif dan nol % akan spritual tanpa penghujung masih berlabu dinegeriku, negeri kita tanah air indonesia.

sejarah baru tertulis
: pahlawan adalah tikus-tikus berdasi.
: bendera berwarna hitam dengan lambang mata uang Rp,_.
: lagu untuk pahlawan tikus berdasi adalah gugur bunga kamboja

Senin, 10 Juni 2013

PESAN UNTUK HAMA-HAMA DI NEGERI KITA

   Ketukan nada memainkan irama sindiran, sindiran para tikus-tikus kantor dan para domba-domba negeri nusantara yang kaya dan subur ini. Alam sekeliling menyaksikan penindasan tanpa ceceran darah, tanpa peluru menembus tubuh, namun mereka kecoak-kecoak yang membunuh dengan kemiskinan, menambahkan lapar dahaga di lingkup rakyat-rakyat negeri.
   Bukan kah kemerdekaan negeri di dapatkan dengan persatuan, tapi mengapa persatuan saat ini di matikan oleh kepribadian semata, bangsa kita bukan lagi terbentuk tatanan bhineka tunggal ika, melainkan tatanan kepribadian meraup kekayaan haram.
   Menjalar sudah binatang-binatang melata di belahan negeri, tumbuh dari segalah kalangan. Kemana lagi mencari pembasmi hama-hama yang nista di kibaran sang saka merah putih ini.
   Pasrah, seakan-akan jalan terakhir yang hanya menantikan derita akan datang melanda kita, namun segalahnya dapat tertepiskan dalam kehidupan kita dengan adanya kekuatan pantang menyerah yang telah di tanamkan para pejuang negeri ini dahulu kala.
   Kepalkan tangan untuk menghujat tikus-tikus, domba-domba dan kecoak-kecoak  di negeri kita, negeri kita bukanlah ladang hama, bersatu untuk perubahan, bergegas untuk kebangkitan negeri yang bersih dari hama-hama nista yang ada di negeri berlandaskan jiwa pancasila dan di naungi merah putih yang tetap berkibar sepanjang masa.
   Tajamkan kebijaksanaan dan keadilan sosial, dan wariskan kepada anak cucu kita.
   Wahai para hama-hama di negeri Indonesia, sang pembasmi kalian akan lahir, mereka tunas-tunas bangsa yang membawa kebijaksanaan dan keadilan dan akan merongrong kehidupan kalian dan akan mencabik-cabik kemewahan kalian, hingga kalian dapat merasakan rasa perihnya kemiskinan dan ketidak adilan yang kami alami saat ini.

Jumat, 07 Juni 2013

SEPARUH KITA ADALAH UKHUWAH

  “Ya Salam, Ya Muhaimin”. Wajib rasanya menjadi acuan oran-orang muslim, orang muslim yang tidak menjadikan muslim lainnya merasa terganggu dengan lisan dan tangannya. Sedang orang mukmin adalah orang yang membuat orang lain merasa aman terhadap  darah dan hartanya.
  Sedemikian indahnya islam itu, sedemikian pula tali ukhuwah kita sejak awal saling mengenali, hingga sampai saat kita berada di kehidupan masing-masing. Waktu yang terus berputar ini, aku membuka kembali memori yang dahulu menorehkan ukiran hangatnya kebersamaan.
   Aktivitas yang bersama kita jalani, terawali saat seruhan adzan subuh berkumandang hingga sampai maghrib tiba dan mengisi canda tawa bersama saat isya’ telah berlalu. 
  Kita berkata saat dunia menyaksikan kebersamaan kita: “bahwa kita akan mengenang kehidupan ini, terus menjalin ukhuwah yang islami, menyapa salam saat kelak jumpa kembali di penghujung perpisahan”.  
   Sahabat, perpisahan kita semua tak akan pernah mengakhiri pertemuan, karna kita sangat merindukan canda tawa bernuangsa kebahagiaan ataupun kesedihan saat bersama di hadapan sejagad raya ini. Sekalipun di antara kita telah pergi mendahului kehidupan fana ini, tetap tidak akan pernah memutus persahabatan atau persaudaraan kita.
  Sahabat, separuh kita adalah ukhuwah. Do’a kita bersama adalah kekuatan, untuk kita yang masih memandang mentari dan rembulan tetaplah berjuang demi pembelian cita-cita dan kemerdekaan masa depan. 
  Untuk semua sahabat yang telah meninggalkan bumi ini selamanya dan tak akan kembali lagi, semoga sang Illahi Robbi menempatkan di antara kekasih-kekasih-NYA.

Kamis, 06 Juni 2013

JADILAH SEPERTI BATU CADAS DALAM MENGHADAPI KRITIK PEDAS

   Manusia pandir dan berakal sempit selalu mencela sang pencipta dan pemberi karunia. Mereka mencari Dzat yang Maha Esa. Yang tiada sesembahan hak selain dia. Apa lagi saya, anda, dan kita yang memaang banyak salah dan dosa.
   Di dalam kehidupan ini bila anda suka memberi, membangun, memberikan manfaat, mencerahkan umat, dan menerangi masyarakat, niscaya anda akan menghadapi serangan bertubi-tubi, berupa kritikan pedas lagi pahit, penghancuran terencana dan terarah dan penghinaan yang disengaja. 
   Parah pengkritik takkan pernah diam hingga hingga anda memasuki liang bumi, menaiki tangga di langit, dan lari dari mereka. 
Adapun bila anda masih di tengah-tengah mereka, maka aka ada selalu sikap mereka yang membuat anda bersedih dan meneteskan air mata, atau membuat anda susah tidur. 
   Orang yang duduk di atas tanah tak akan pernah terjatuh dan manusia tak akan pernah menendang anjing mati, tapi mereka akan marah pada anda karena anda telah mengungguli mereka dalam hal kesalehan, ilmu, perilaku, dan harta. Anda di mata mereka adalah orang berdosa yang tak akan terampuni hingga anda melepaskan nikmat dan karunia Allah, meninggalkan sifat-sifat terpuji dan meninggalkan nilai-nilai luhur yang selama ini anda pegang, mereka baru akan rela, saat anda menjadi orang bodoh, pander, dan tolol seperti yang mereka harapkan.
   Oleh sebab itu, waspadailah apa yang mereka katakana, teguhkan jiwa anda saat mendengar kritikan, cemoohan, dan hinaan. Jadilah seperti batu cadas yang tetap kokoh berdiri, dan bahkan mampu memecahkan butiran-butiran salju yang datang menerpa. Berpalinglah dari mereka dan jangan merasa sempit dari tipu daya mereka, karna sesungguhnya kritik menyakitkan itu adalah ungkapan penghormatan mereka. semakin tinggi derajat dan posisi Anda, maka kritikan yang datang akan semakin pedas dan memilukan.

                        Buku   : Ada Kemudahan Bersama Kesulitan
                        Penulis: Ali Ahmad Abdul al at-thahthawi
                                 : Jad Ar-Rab dan Aid Al- Qarni

Rabu, 05 Juni 2013

MOROWALI UNTUK GENERASI ESOK

    Dari setapak jalur celebes centre, kilometer jalan raya bertikungan terpampang dalam apitan gunung dan tebing-tebing bertajam membawa ke salah satu bagian tanah mori, pemukiman daerah-daerah kabupaten morowali mengundang masa depan morowali, dalam membangun kesejahtraan, mengolah sumber daya manusia yang berkualitas, serta menjaga sumber daya alam agar tetap murni, menetralisasikan kelestarian alam morowali tercinta.
    ketika masa bumi semakin tua, morowali bangkit dalam rancangan di daerah-daerah, yang di tujukan untuk langkah awal yaitu pemekaran. kepemimpinan yang merealisasikan industri-industri agar memanfaatkan isi bumi, serta kesuburan tanah morowali tercinta agar tercipta wadah-wadah lapangan kerja, membangun tatanan wilayah demi mensejajarkan wilayah ternama di NKRI ini. maka sesekali terlahir pro dan kontra, sungguh mengesankan kesedihan dalam tujuan utama yang telah terancang sejak bumi morowali lahir.
   orasi untuk segenap generasi pemuda pemudi morowali, bersatu untuk masa depan tanah leluhur kita bertindak dalam arah kebijaksanaan untuk mengidealisasikan kesosialan di tanah morowali tercinta, lupakan permasalahan masa lalu yang telah banyak menimbulkan pro dan kontra. sudah saatnya kita yang menimbah ilmu pengetahuan di bangku pendidikan tanpa ada kata perbedaan untuk melanjutkan impian morowali.
   untuk segenap pemimpin yang telah berjuang, izinkan sang generasi muda berkontribusi untuk pemberdayaan di morowali tercinta. tua muda, maupun senior junior marilah kita bumi hanguskan perbedaan ataupun tingkatan pangkat dan derajat, karna kita adalah kesatuan untuk morowali. jangan ada lagi sebuah tujuan hanya demi kepribadian semata, sebab kita bersama untuk morowali. jangan bebankan kegagalan kita untuk anak cucu kita nantinya, jangan patahkan masa depan mereka karna hanya keterlambatan kejayaan morowali, sehingga mereka terlantar dalam kemiskinan, kedangkalan pengetahuan, serta buta era yang semakin modernisasi.
   Marilah kita berikan warisan kepada generasi di era akan datang dengan kemakmuran dan kejayaan, biarkan kelak mereka bernyanyi senandung lagu kebahagian, kita yang telah tiada nantinya akan mendapatkan ketenangan dengan mengorbankan perjuangan gigih demi tanah leluhur kita, demi senyuman generasi yang akan datang. 
   
   

Kamis, 30 Mei 2013

BERSAMA KESULITAN, ADA KEMUDAHAN

Wahai manusia, setelah lapar ada kenyang, setelah dahaga ada kesegaran, setelah bergadang ada lelap tidur dan setelah sakit ada sehat. Setiap yang hilang past ketemu; setiap yang tersesat akan mendapat petunjuk; setiap yang dalam kesulitan akan terbebas; dan kegelapan akan berubah menjadi terang.

uŽtIsù z`ƒÏ%©!$# Îû NÎgÎ/qè=è% ÖÚt¨B šcqãã̍»|¡ç öNÍkŽÏù tbqä9qà)tƒ #Óy´øƒwU br& $oYt7ÅÁè? ×otÍ¬!#yŠ 4 Ó|¤yèsù ª!$# br& uÎAù'tƒ Ëx÷Fxÿø9$$Î/ ÷rr& 9øBr& ô`ÏiB ¾ÍnÏYÏã (#qßsÎ7óÁãsù 4n?tã !$tB (#rŽ| r& þÎû öNÍkŦàÿRr& šúüÏBÏ»tR ÇÎËÈ  
52. Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: "Kami takut akan mendapat bencana". Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka.

Sampaikan kabar gembira pada malam, bila jelang fajar akan mengusirnya dari puncak-puncak gunung dan dasar-dasar lembah. Gembirakan orang yang berkesusahan dengan pertolongan yang datang secepat kilatan cahaya dan sesegera kedipan mata. Bergembira pula orang yang sedang bergundah gulana dengan lipatan karunia dan dekapan hangat yang segera tiba.
Saat anda melihat hamparan padang sahara yang seolah memanjang tampa batas, maka ketahuilah dibalik kejauhan itu terdapat kebun rimbun penuh hijau dedaunan. Dan saat anda melihat seutas tali makin meregang kencang, maka ketahuilah ia akan segera putus.
Setiap tangisan akan berhujung dengan senyuman, ketakutan akan berakhir dengan rasa man, dan kegelisahan akan sirna oleh kedamaian.
Maka janganlah anda merasa terhimpit sejengkalpun. Setiap keadaan pasti berubah. Dan sebaik-baik ibadah adalah menanti kemudahan dengan penuh kesabaran. Hari akan terus bergulir, tahun akan berganti, dan malam akan berubah, yang ghaib akan terus bersembunyi, tapi sang maha bijaksana akan terus memegang kendali urusan. Dan Allah mampu menciptakan hal baru setelah itu semua, dan sungguh, bersama kesulitan itu ada kemudahan.

                              
                        Buku  : Ada Kemudahan Bersama Kesulitan
                        Penulis: Ali Ahmad Abdul al at-thahthawi
                             : Jad Ar-Rab dan Aid Al- Qarni


KAMPUNG KEDUA KITA

   
   Terlahir kita sudah kedunia fana ini, berpijak di setiap tanah kelahiran. Tahun demi tahun berjalan silih berganti, tumbuhlah dewasa generasi-generasi muda penopang agama dan negaranya. Berlomba-lomba mencari wadah pengetahuan demi niatan menimpah ilmu.
   Suratan takdir tanpa dapat terpandang, mengiring langkah-langkah kita tanpa serentak berpijak di satu wadah pengetahuan yang menyetarakan ilmu dan amal antara sisi kehidupan dunia dan akhirat. 
   Masa-masa kita telah bersatu di naungan berlabelkan Pondok Pesantren, kita semua beragam suku dari sabang hingga sampai merauke tidak merusutkan perbedaan, melainkan kita sejajar bersama ibarat barisan shof-shof ketika menunaikan ibadah sholat.
   Pagi cerah menyambut matahari terbit, hingga menyongsong petang mengantar matahari terbenam, kita beriring-iringan terbasuh sejuknya Darussalam “kampung damai”. Kampung tempat kita menuntut ilmu, tempat terjalinnya ukhuwah islamiyah.
  Tiada terniang hidup di kampung kedua kita, kampung damai tempat kita dewasakan pemikiran dengan ilmu amal. Walaupun Sejarah tidak akan pernah terulang, 

tapi Pondok Pesantren Modern Darussalam Lawang-Malang di pulau jawa timur ini menanamkan kesan di benak hati kita masing-masing.
  Inilah kita yang pernah menghirup udara, menghembuskan nafas di Darussalam “kampung damai” akan terus menanamkan panca jiwa pondok dalam jiwa raga kita hingga yaumul kiyamah.