Terlahir kita sudah kedunia fana ini, berpijak di setiap tanah kelahiran. Tahun demi tahun berjalan silih berganti, tumbuhlah dewasa generasi-generasi muda penopang agama dan negaranya. Berlomba-lomba mencari wadah pengetahuan demi niatan menimpah ilmu.
Suratan takdir tanpa dapat terpandang, mengiring langkah-langkah kita tanpa serentak berpijak di satu wadah pengetahuan yang menyetarakan ilmu dan amal antara sisi kehidupan dunia dan akhirat.
Masa-masa kita telah bersatu di naungan berlabelkan Pondok Pesantren, kita semua beragam suku dari sabang hingga sampai merauke tidak merusutkan perbedaan, melainkan kita sejajar bersama ibarat barisan shof-shof ketika menunaikan ibadah sholat.
Pagi cerah menyambut matahari terbit, hingga menyongsong petang mengantar matahari terbenam, kita beriring-iringan terbasuh sejuknya Darussalam “kampung damai”. Kampung tempat kita menuntut ilmu, tempat terjalinnya ukhuwah islamiyah.
Tiada terniang hidup di kampung kedua kita, kampung damai tempat kita dewasakan pemikiran dengan ilmu amal. Walaupun Sejarah tidak akan pernah terulang,
Inilah kita yang pernah menghirup udara, menghembuskan nafas di Darussalam “kampung damai” akan terus menanamkan panca jiwa pondok dalam jiwa raga kita hingga yaumul kiyamah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar